Daerah

Dinas PU Pengairan Banyuwangi Rakor Bahas Ritual Bubak Bumi Dam Karangdoro

Dinas PU Pengairan Banyuwangi Rakor Bahas Ritual Bubak Bumi Dam Karangdoro

Banyuwangi - Dinas PU Pengairan Banyuwangi, telah menggelar rapat koordinasi bersama seluruh Gabungan Himpunan Petani Pemakai Air (GHIPPA) wilayah Daerah Irigasi (DI) Baru dan seluruh Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) di wilayah Banyuwangi.

Ritual Bubak Bumi adalah tradisi turun temurun yang dilakukan oleh para petani untuk mengawali musim tanam, khususnya musim tanam padi. Tradisi ini dilakukan dengan tujuan memohon doa agar proses penanaman hingga panen dapat berjalan dengan lancar dan terhindar dari berbagai masalah, seperti serangan hama atau cuaca buruk.

Bubak Bumi merupakan tradisi yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan agraris di Banyuwangi.

Kepala Dinas PU Pengairan Banyuwangi, Guntur Priambodo, menjelaskan, ritual ini tidak hanya menjadi ajang berdoa dan memohon keberkahan, tetapi juga menjadi upaya untuk melestarikan budaya lokal dan memperkuat kebersamaan antarkomunitas petani.

“Bubak Bumi adalah simbol dari harapan dan doa petani agar musim tanam bisa berjalan lancar tanpa kendala. Ini adalah momen penting bagi kita semua untuk saling mendukung dan bekerja sama," kata Guntur.

Ritual ini akan dikemas dengan tema "Sewu Ancak," yang berarti seribu ancak. Ancak adalah wadah dari anyaman bambu yang digunakan untuk membawa hasil bumi atau sesaji. Dalam konteks ritual Bubak Bumi, ancak ini akan diisi dengan berbagai hasil bumi dan makanan tradisional yang nantinya akan dipersembahkan sebagai simbol rasa syukur dan harapan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Guntur juga menyebutkan bahwa ritual Bubak Bumi di Dam Karangdoro memiliki nilai sejarah tersendiri. Dam ini dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1921 dan telah menjadi bagian penting dari sistem pengairan di Desa Karangdoro.

Festival Bubak Bumi sekaligus menjadi ajang untuk mengenang berdirinya Desa Karangdoro dan kontribusi dam ini dalam mendukung pertanian di wilayah tersebut.

“Bubak Bumi bukan hanya tentang memulai musim tanam, tetapi juga tentang mengenang sejarah dan pentingnya peran dam ini dalam kesejahteraan masyarakat lokal. Kami berharap acara ini bisa mempererat kekompakan petani serta memperkuat komitmen bersama dalam menjaga dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya air,” ungkap Guntur.

Rapat koordinasi ini juga membahas berbagai persiapan teknis untuk memastikan kelancaran acara, termasuk pengaturan jadwal, penyiapan logistik, dan koordinasi dengan pihak terkait. Semua GHIPPA dan Korsda di wilayah Banyuwangi diminta untuk berpartisipasi aktif dalam menyukseskan acara ini.

“Kami mengajak semua pihak, baik petani, aparat desa, maupun masyarakat umum, untuk turut serta dalam ritual Bubak Bumi ini. Partisipasi dan dukungan semua pihak sangat penting agar acara berjalan lancar dan membawa keberkahan bagi kita semua,” tambah Guntur.